By. Pepeng Naif

Gak terasa saat Naif ikutan maen di stadion Lebak Bulus sudah setahun lamanya. Gak terasa 20 tahun Slank yang membuat Jakarta penuh oleh kupu-kupunya itu sudah setahun lamanya. Kini Slank telah menginjak usai 21 tahun.
Kalau manusia telah mencapai usia 21 tahun maka kedewasaannya akan diakui oleh semua orang, maka Slank di usianya yang ke-21 ini tentunya diharapkan akan menjadi Slank yang dewasa pula.
Kata “dewasa” disini tentunya tidaklah memiliki arti yang harafiah. Tapi lebih dalam dari itu. Masih melekat betul dikepala saya saat pertama kali ‘ngeh ada sebuah band yang namanya Slank. Hmmm, saat itu kalo gak salah saya masih duduk dibangku SMP. Ketika denger single hitnya Maafkan yang sangat legendaris itu di radio, langsung saya ke toko kaset. Ngapain? ya belilah.!!
Terus beberapa hari kemudian ternyata band yang baru saya beli kasetnya itu sudah menjadi pembicaraan temen-temen di sekolah. Dari namanya yang kependekan dari selengean – yang notabene saat itu lagi musim banget gaya selengean (semakin selengean lo bakalan semakin terlihat cool dan gampang banget dapet cewek, makanya banyak cowok yang belagak selengean biar dibilang keren...... hehehe) – sudah bisa saya tebak apa jadinya kalo band satu ini ngetop nanti. Pasti para fans band itu – yang kelak disebut Slankers – bakalan jadi anak-anak yang selengean pula (atau lebih tepatnya sok selengean). Kenapa? Karena sudah dapat dipastikan seorang penggemar sedikit banyak pasti meniru segala hal yang ada pada sang idolanya, enath itu cara berpakaiannya, gaya bicara, gaya hidup bahkan mungkin falsafah hidupnya. Dan kalo udah gitu biasanya tinggal gimana pintar-pintarnya sang idola mengajarkan hal-hal yang baik agar para penggemarnya terbentuk jadi orang yang baik pula.
Tahun-tahun berlalu, saya perhatikan saat itu Slankers makin banyak saja. Hingga kini, sepertinya mereka bukan cuma sebuah band yang sekedar memainkan musik rock n’ roll, tapi juga dianggap sebagai sosok yang mengerti sekali apa yang ada dibenak mereka yang umumnya remaja.
Slank jadi semakin mainstreem. Kenama-mana saya lihat SLANK. Entah itu dalam bentuk grafitti maupun sekedar poster. Kalo ada acara-acara atau apapun yang menimbulkan keramaian, entah itu acara musik maupun kampanye partai politik,

saya pasti akan melihat bendera Slank, atau minimal ada orang yang memakai kaos Slank. Sampai satu hari saya pernah berkata dalam hati; “ Ini band ‘gila’ banget yaks?!”
Hahahaaa...
Salut! Cuma satu kata itu yang bisa saya utarakan kalo mau berkomentar tentang Slank. Dan kata itu juga yang terlontar dari kawan-kawan Naif saya. Cuma memang, kalo merujuk dari kalimat petuah dalam komik Spiderman, “ Dalam sebuah kekuatan yang besar terdapat tanggung jawab yang besar pula.” (ucapan Peter Parker [Spiderman] saat menjelang ajalnya) ada benarnya juga. Slank memiliki kekuatan yang besarsekali untuk mempengaruhi para Slankersnya. Karena itu dibutuhkan tanggung jawab yang besar pula untuk memberi pegaruh yang baik kepada para Slankersnya.
Dan dalam hal itulah Slank pernah gagal dan terjatuh, sehingga banyak pula para penggemarnya yang terjerumus pula dalam masalah yang sama. Namun sekarang Slank telah pulih. Kini tinggal bagaimana caranya memulihkan mereka yang telah terpuruk itu.
Intinya adalah Pengaruh! Bagaimana seseorang yang dewasa mempengaruhi --secara halus: mendidik—adik-adiknya untuk tumbuh menjadi orang yang baik, yang berguna. Itulah arti kata ‘ dewasa’ yang saya sebutkan tadi. Diusianya yang ke-21 tahun ini semoga Slank bisa bikin para Slankers dan semua orang gak cuma mengerti untuk mengacungkan jari telunjuk dan tengah mereka dan meneriakkan kata ‘piss’ saja, tapi juga bisa bikin mereka mengerti bagaimana cara untuk menjadi individu yang berguna dimasa depan nanti. Karena Slank punya kekuatan itu. Kekuatan untuk mempengaruhi. Memberi virus... virus kebaikan tentunya.
Selamat ulang tahun ke-21 untuk Slank! Salam piss dari kami semua.
Jakarta, 26 November 2004
(dikirim via email, dari Padang usai tampil pada Soundrenaline 2004)
sumber;
Koran Slank
edisi Des04-Jan05
Slank Mengusung Kritik dan Makna Damai
Peace, love, unity, and respect... peace, love, unity, and respect....
JAKARTA - Dengan lantang, Kaka, vokalis Slank, melantunkan lirik perdamaian. Harmoni permainan musik yang mengentak mengiringi lagu yang menjadi judul album terbaru mereka, PLUR (Peace, Love Unity, Respect). Slank menggelar sebuah konser mini dalam acara peluncuran album ke-13 tersebut di markas mereka, Gang Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Rabu (22/12) malam.
Turut hadir dalam acara itu antara lain Koko (promotor), Deny (Slank Records), dan Rahmi (putri Ismail Marzuki). Sekitar 50 orang
slankers (penggemar Slank) sudah berkumpul di luar markas Slank menjelang azan magrib. Dengan berpakaian hitam-hitam, mereka
nongkrong di dekat ujung jalan masuk. Namun, hingga konser mini selesai digelar, mereka tidak diperkenankan masuk. Tata suara yang cukup memekakkan telinga tampaknya bisa dinikmati para
slankers yang ada di luar pagar.
Perkembangan situasi politik dan keamanan dalam negeri kali ini menjadi sumber inspirasi lahirnya album terbaru Slank. Menilik lagu-lagu yang ada dalam album ini, Slank merasa kecewa dengan perkembangan di Tanah Air yang penuh dengan konflik dan ketidakstabilan. Simak seperti
Jakarta Meledak Lagi, PLUR, Gossip Jalanan, Indonesiakan Una, dan
Atjeh (Investigation). Dalam lagu
Jakarta Meledak Lagi, Slank menyatakan simpati atas ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, 9 September lalu. "Di alam merdeka butuh toleransi. Cara kekerasan
nggak welcome di sini," demikian bunyi larik terakhir dari lagu tersebut.
Kaka (vokalis dan peniup harmonika), Bimbim (penabuh drum), Ivanka (basis), Abdee (gitaris), serta Ridho (gitaris dan piano) juga menyerukan slogan perdamaian
(peace), cinta
(love), persatuan
(unity), dan menghargai
(respect). "Perdamaian tidak mungkin terwujud tanpa adanya rasa cinta, persatuan, dan saling menghargai," kata Kaka
Slogan baru
Lalu Kaka menjelaskan, slogan PLUR ini merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari slogan piss (perdamaian) yang merupakan judul album yang mereka rilis pada 1993. Dia berharap "ramuan" tersebut dapat membawa bangsa Indonesia ke kondisi yang lebih baik.
Menurut Bimbim, konsep PLUR bukanlah sesuatu yang baru, namun sudah lama berkembang di Indonesia. Bagi Slank, kata dia, PLUR adalah modernisasi dari dasar negara Pancasila. "Mungkin anak-anak sekarang harus dikasih gaya bahasa baru agar paham," kata dia. Dalam lagu
Atjeh (Investigation), Slank mempertanyakan tujuan perang yang terjadi di Aceh. Mereka juga merasa prihatin karena banyak anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang menjual ganja untuk membeli peluru produksi PT PINDAD. Kaka dan kawan-kawan juga merasa prihatin atas sejumlah kasus tewasnya prajurit TNI akibat senapan rekan mereka sendiri.
Lemahnya penegakan hukum juga menjadi kritik Slank dalam lagu berjudul
Gossip Jalanan. Slank mengkritik adanya mafia narkoba di penjara-penjara, mafia pengadilan yang terdakwa dan hakim bisa jual-beli perkara. Para bandar judi yang menyuap polisi, dan tentara yang menjadi pengawal pribadi juga tidak lepas dari perhatian mereka.
Lagu ini juga menyuarakan kecurigaan sejumlah pihak terhadap kejujuran pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilu presiden. Slank mempertanyakan pula kinerja anggota Dewan yang tidak becus membuat udang-undang serta sekelompok masyarakat atas nama agama tertentu yang merusak tempat hiburan.
Slank juga menyoroti semakin membengkaknya biaya perawatan di rumah sakit dan biaya pendidikan. Kelompok musik yang diawaki lima orang itu juga merasa prihatin dengan gaya hidup anak-anak sekarang yang menggemari makanan cepat saji seperti McDonald's dan KFC ketimbang makan di warung Tegal. Mereka juga merasa sedih karena anak-anak lebih mengidolakan tokoh asing daripada pahlawan Indonesia. "Ini
curhat(curahan hati)
gue," kata Bimbim dengan nada lirih sebelum melantunkan lagu
Indonesiakan Una dengan iringan piano yang dimainkan Ridho.
Album tersebut terdiri dari 13 lagu, 12 di antaranya lagu terbaru yang belum pernah beredar dan satu lagu ciptaan Ismail Marzuki berjudul
Juwita Malam. Bagi Slank, album terbaru ini merupakan peristiwa bersejarah. "Ini pertama kalinya kami menyanyikan lagu bukan ciptaan sendiri
(Juwita Malam) dalam sebuah album," kata Kaka. Slank berharap lagu
Juwita Malam dapat menggugah anak-anak muda sekarang untuk mengikuti semangat di zaman revolusi.
Yang cukup istimewa, dalam album
PLUR ini, lagu
Juwita Malam dinyanyikan dengan dua versi,
blues dan
punk. Bersama labu bertajuk
Biru, Juwita Malam akan menjadi lagu tema
(soundtrack) film
Banyu Biru yang akan dirilis pada Maret tahun depan. Selama perjalanan musiknya, Slank telah menghasilkan album
Suit-Suit Hehe/Gadis Sexy pada Desember 1990,
Kampungan (Desember 1991),
Piss (Desember 1993),
Generasi Biru (Desember 1994),
Minoritas (Januari 1996),
Lagi Sedih (Februari 1997),
Tujuh (Januari 1998),
Mata Hati Reformasi (Mei 1998),
999+09 (album ganda - Oktober 1999),
Virus (September 2001),
Satu Satu (Maret 2003), dan
Road to Peace (Mei 2004).
sumber: faisal assegaf/koran tempo
catatan:
gong PLUR telah dimulai dari Surabaya pada 26 Desember 2004, dan akan menyebar ke seluruh tanah air, sampai dunia kiamat.