P T Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. baru saja dilego kepada raksasa rokok, Philip Morris International, yang berkantor pusat di Lausanne, Swiss. Kisah sukses perusahaan yang sudah eksis lebih dari 90 tahun itu coba dikupas oleh Hermawan Kartajaya, CEO MarkPlus&Co, bersama Yuswohardy dan Sumardy dalam buku
4-G Marketing: A 90 Year Journey of Creating Everlasting Brands.

Dalam buku setebal 540 halaman yang diterbitkan penerbit MarkPlus&Co itu, pembaca akan diajak memahami bagaimana pabrik rokok Sampoerna merancang dan mengeksekusi strategi kepada empat generasi kepemimpinan dari generasi Lim Seeng Tee, Aga Sampoerna, Putera Sampoerna, hingga Michael Sampoerna.
Sampoerna adalah salah satu dari sedikit perusahaan yang mampu bertahan lama. Kesuksesan perusahaan ini untuk dapat berlanjut selama 90 tahun ini merupakan fenomena tersendiri bagi dunia bisnis di Indonesia. Karena itu, Hermawan Kartajaya mencoba menyajikan rahasia dan faktor-faktor penentu kesuksesan Sampoerna sebagai
'everlasting company'.
Di era kepemimpinan Liem Seeng Tee, Sampoerna pernah mencapai titik kinerja terendah saat tentara Jepang menduduki negeri ini awal 1940-an. Pabrik rokok di Surabaya itu diduduki dan dipaksa memproduksi rokok untuk tentara Jepang di Jawa dan Indonesia bagian timur. Seusai perang, penjajah Jepang pun lenggang kangkung meninggalkan pabrik yang sudah porak-poranda.
Lalu, empat generasi itu secara estafet membangun kembali kerajaan yang sudah hancur itu hingga menjadi perusahaan rokok yang disegani. Dari penulusuran riset, penulis buku menemukan tiga
core winning characteristics yang menjadi faktor penentu kesuksesan Sampoerna. Pertama, kemampuan organisasi dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis. Selama 90 tahun, perusahaan ini menghadapi beraneka ragam gelombang perubahan lingkungan bisnis, tapi secara cakap mampu mengatasinya dengan baik. Faktor berikutnya adalah budaya perusahaan yang kukuh dalam bentuk nilai-nilai luhur dan perilaku yang dipercayai oleh semua orang dalam organisasi. Dalam kaitan pembentukan budaya korporat ini, penulis menemukan sebuah fenomena yang unik di Sampoerna karena peran dari para CEO-nyadari generasi ke generasi sangat dominan.