name: oesoep tjhai
 +62 852 4523 1129

gallery contact me

 
Name :
Web URL :
Message :
 
Melangkah bersamaku,
jangan takut jika kehilanganku.
Aku akan selalu bersamamu.
orang-orang yang aku cintai & mencintaiku.
Walau kalian tidak pernah melihatku.
Galuhdiar
 
30|07|04 01|08|04 02|08|04
03|08|04 04|08|04 08|08|04
18|08|04 20|08|04 26|08|04
03|09|04 06|09|04 07|09|04
08|09|04 09|09|04 12|09|04
14|09|04 15|09|04 16|09|04
17|09|04 20|09|04 22|09|04
23|09|04 25|09|04 28|09|04
30|09|04 01|10|04 06|10|04
10|10|04 11|10|04 15|10|04
21|10|04 22|10|04 28|10|04
01|11|04 03|11|04 11|11|04
19|11|04 25|11|04 29|11|04
06|12|04 07|12|04 08|12|04
14|12|04 19|12|04 21|12|04
23|12|04 26|12|04 28|12|04
30|12|04               31|12|04
07|01|05 11|01|05 12|01|05
14|01|05 15|01|05 17|01|05
18|01|05 23|01|05 25|01|05
07|02|05 11|03|05 20|03|05
22|03|05 28|03|05 02|04|05
03|04|05 04|04|05 07|04|05
09|04|05 11|04|05 12|04|05
13|04|05 21|04|05 25|04|05
29|04|05 08|05|05 12|05|05
16|05|05 23|05|05 26|05|05
06|06|05 07|06|05 08|06|05
23|06|05 01|07|05 02|07|05
06|07|05 08|07|05 12|07|05
15|07|05 20|07|05 28|07|05
30|07|05 01|08|05 03|08|05
08|08|05 10|08|05 12|08|05
15|08|05 16|08|05 17|08|05
19|08|05 22|08|05 23|08|05
24|08|05 25|08|05 26|08|05
31|08|05 01|09|05 12|09|05
15|09|05 23|09|05 28|09|05
30|09|05 05|10|05 07|10|05
13|10|05 19|10|05 30|10|05
01|11|05 03|11|05 05|11|05
28|11|05 29|11|05 03|12|05
15|12|05 15|12|05 22|12|05
16|01|06 17|01|06 19|01|06
26|01|06 27|01|06 03|02|06
07|02|06 11|02|06 18|02|06
21|02|06 24|02|06 27|02|06
01|03|06 03|03|06 07|03|06
13|03|06 14|03|06 16|03|06
21|03|06 29|03|06 31|03|06
02|04|06 08|04|06 14|04|06
20|04|06 21|04|06 22|04|06
10|05|06 12|05|06 14|05|06
19|05|06 02|06|06 08|06|06
11|06|06 12|06|06 26|06|06
03|07|06 14|07|06 30|07|06
14|08|06 20|08|06 04|09|06
23|09|06 05|10|06 18|10|06
31|01|07
24|01|08 13|04|08 20|04|08
25|05|08 25|06|08 09|07|08
11|08|08 18|09|08 23|09|08
05|02|09
 
Ruangbaca
PondokRenungan
PhotoBucket
TinyPic
PrenSter
LiveConnector
SariKata
PolisiEYD
FamousQuotes
GreatQuotes
ShoutHuns
ClasMild
StarMild
Amild
AmildIBL
HouseOfSampoerna
SonyMusic
DiscTarra
LGgue
KartuLoeBanget
itsaBoyThing
HondaRacingGames
IM:port
k!ckAndy

GMail
YMail
HotMail
MSNWebMessenger

GaluhDiar
dukunnyentrik
pamanTYO
HelenaAndrian
RianiSovana
Kwintamas
Jabrik
Wicaksono
Qaris
[theGadget!]
pandaendut
TukangKoran
LoperKoran
Ellya
Ellyapoems
Lhukie
Nurv3
BungaRumputLiar
ArmaZone
Bucin
Spawn
Pipit
DieChan
Inez
Iw0k
Naxcie
siduahuruf
DysfungsionalFamily
IceCone
Haucuena.k.aMoi
iNa
Luigi
Loen!E
EndaNasution
AlenCantik
iNeX
g i $ t
RaRa
Ficano
Fannie
djteeara
LiLi
Adon
DayakUpDate
Nihon
anakPonti
Ochan
MpokB
Dinda
Ochie
dee04
dianaKang
eunikediana
nakedtraveler
olinxk
nonasedih
dewiindie
melibolot
syafrinasiregar
syafrina
diandecante
ChristyBronx
dahlia
sisca
tata
mbilung
pecasndahe
widyastuti
NunikUtamiAmbarsari
NabillaRizkaAulia
rovicky
JessicaNg
uci
MadhaYudis
Yoyoe
Nanang
Yaser
gia
nita
glorynie
Hernawan
Stefanus
Deepak
AbishekI
AbishekII
rovich
s e l i
e m i x
QonietaSyavira
eskopidantipi
elborneo
Busby SEO Test
 
merchandise f/ amild.com
paket f/ jakartamu.com
Helm f/ umild.com
Paket f/ Rotho
DVD 3 Hari Untuk Selamanya
Paket f/ Galuhdiar
Paket f/ iwok
Paket f/ dewiindie
TasCokelat f/ amild.com
tiket Pontianak-Denpasar pp
CD INCUBUS f/ amild.com
tiket Pontianak-Ketapang pp
KiamatSudahLewat f/K!ckAndy
FlashDisk f/ amild.com
Laskar Pelangi f/ K!ckAndy
tiket Jakarta-Belitung pp
Good Charlotte f/ amild.com
Tiara Lestari f/ K!ckAndy
Indigo Girl f/ K!ckAndy
tiket Jakarta-Pontianak pp
CD Rock United
paket IBL f/ dewiindie
paket Rock United f/ Paul
iPod nano from honda
paket OKS f/ iw0k cs.
paket f/ syafrina
merchandise f/ amild.com
tiket Radja Ratu
paket f/ iwok
merchandise f/ amild.com
tiket Slank
paket f/ mpok Lili
DVD GIE
VCD GIE
merchandise f/ amild.com
paket f/ syafrina
merchandise f/ amild.com
paket f/ iwok
paket f/ iwok
merchandise f/ amild.com
paket f/ dewiindie
merchandise f/ star-mild
tiket Radja
vcd Slank AMLS 05
CSD f/ VW
asbak f/ iw0k
paket RebornRepublic f/ iw0k
merchandise f/ amild.com
Nokia3230 f/ bubuawards
 
 
  Site Meter
Free Shoutbox Technology Pioneer
  Get Firefox - The Browser, Reloaded.
   BlogFam Community
   Blogfam Online Magazine
   A Mild Forum
blogdrive
:: Gelang Merah Untuk Anak Indonesia  ::
  Free Website Counter
tampilan dipermak oleh oesoep835
 
›› A Mild Live
Soundrenaline 2008
FREE YOUR VOICE
Pekanbaru | 13 Juli
Medan | 20 Juli
Batam | 27 Juli
Malang | 03 Agustus
Yogyakarta | 10 Agustus
 
 
  jadi bagian dari sejarah
 
 
  Majalah Satelit Terbesar di Dunia
 
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
 
 
Friday, July 01, 2005
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan

Resensi Buku Soe Hok Gie oleh Arief Budiman

Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan.

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “ Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang”. Terhadap ibu dia Cuma tersenyum dan berkata “Ah, mama tidak mengerti”.

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si…, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”. Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966. Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu”. Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab “Tidak. Mengapa?” Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran? Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab “ Dia orang berani. Sayang dia meninggal”.

Jenazah dibawa oleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: “Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus”. Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan sayamencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?

Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon Jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun akalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang? Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa :: sumber: milesfilm.com  ::merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun Cuma di dalam hatinya.

Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik “Gie, kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu.

Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.

Arief Budiman 


**Buku Catatan Seorang Demonstran (CSD) adalah kumpulan catatan harian seorang aktivis muda angkatan ‘66 bernama Soe Hok Gie. CSD diterbitkan oleh LP3ES ini menjadi menarik karena Soe Hok Gie sangat berani dalam mengomentari berbagai hal dan peristiwa, dari soal cinta, filsafat sampai politik.
Buku ini juga menjadi sumber inspirasi pembuatan film GIE yang akan beredar serentak di bioskop-bioskop 10 kota besar di Indonesia mulai 14 Juli 2005.


sumber: amild.com



Posted at 12:22:29 pm by oesoep835

Lili
July 2, 2005   01:16 AM PDT
 
Mukanya beliau ini sering muncul di TV sekarang.
Dipakai iklan KOMPAS dgn wajah baru.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




 
PERINGATAN PENULIS :
MALAS MEMBACA DAPAT MENYEBABKAN RENDAH DIRI, TIDAK TRENDI, KEBODOHAN AKUT DAN KANKER BUDAYA.
Previous Entry Home Next Entry