Film Riri Riza tentang cinta
dan kegigihan Soe Hok
Gie dalam sejarah kelam
Indonesia
Apa kamu mampu memperjuangkan suara rakyat ketika kamu takut kehilangan jabatan di parlemen?
Sembari melontarkan kata-kata itu Soe Hok Gie (Nicholas Saputra) menatap tajam wajah Jaka (Doni Alamsyah), wakil rakyat yang baru saja memarkirkan mobil mewahnya. Baju sederhana Gie amat kontras dengan baju safari jaka yang pernah menjadi teman kuliahnya itu. Mendengar kata-kata itu, anggota parlemen yang meniti karier politiknya lewat Perhimpunan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia (PMKRI) itu hanya terdiam sampai akhirnya Sinta (Wulan Guritno) mengajak Gie pergi.

Adegan tersebut hanya satu dari sekian banyak
scene dalam film
GIE garapan sutradara (sekaligus penulis skenario) Riri Riza ini. Gie adalah tokoh mahasiswa angkatan 1966 yang gemar mendaki gunung dan lantang berbicara tentang kebenaran. Adik kandung Arief Budiman ini selalu ingin tahu tentang kondisi negara serta banyak menulis artikel di media massa dan catatan harian pribadi. Menurut John Maxwell, Indonesianis dari Australia National University, Gie ada lensa kecil untuk melihat kondisi Indonesia pada tahun 1960-an.
Dalam film ini, Riri Riza mencoba menginterpretasikan Gie yang kuat dengan prinsip keadilan dan kebenaran di tengah pergolakan Indonesia pada masa itu. Dalam salah satu catatannya, Gie memang menulis, "Saya tidak ingin menjadi pohon bambu yang terhunyung saat tertiup angin. Saya ingin menjadi pohon oak yang menentang angin."
Secara keseluruhan, film ini seperti membenarkan kata-kata John Maxwell. Ia hanya bertutur tentang Gie, termasuk kisah cintanya dengan Ira (Sita Nursanti RSD) dan Sinta. Namun, kendati terkesan terlalu berlebihan, film ini juga mampu memberikan perspektif berbeda tentang sejarah kelam peristiwa berdarah seputar 1965. Selama ini kita hanya mengenal satu versi lewat film
Pemberontakan G-30S/PKI.
Film ini yang didominasi gambar
close up atau
medium close up ini dibuka dengan kehidupan masa kecil Gie dan ditutup dengan kematiannya, sehari menjelang ulang tahunnya ke-27 di Gunung Semeru. Kematian ini seperti telah dirasakannya antara lain ketika menulis, "Nasib terbaik pertama adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua."
Kesungguhan sutradara untuk menginterpretasikan Gie dan menawarkannya sebagai idola baru itu memang pantas diacungkan jempol. Bagi kebanyakan orang, sikap Gie kadang terlalu naif. Namun entah disadari atau tidak oleh Riri Riza, Gie telah tampil sebagai sosok yang religius. Gie mampu menolak dengan dua kata ketika Jaka mengajaknya aktif di PMKRI, "Buat apa?"
Ini sebuah potret religiositas Gie yang tidak harus muncul dengan idiom agama. Tidak seperti Jaka, Gie lebih memilih memperjuangkan rakyat di luar organisasi yang mengatasnamakan agama tapi berbuntut pada impian terhadap kekuasaan.
Hanya, sutradara terlampau bimbang untuk memilih jalan cerita yang lebih terfokus dan mampu meletakkan masing-masing tokoh dalam benang merah yang lebih tegas. Sutradara terlalu banyak mengambil riset untuk diwujudkannya dalam gambar. Hubungan Gie dengan Han, Sinta, Ira, atau Soenarto pun seolah menjadi pernik-pernik yang tidak berkaitan.
Lewat film berbiaya Rp. 7 Milliar inilah sosok Gie dicoba ditawarkan kepada kalangan muda agar menjadi idola baru. Dalam sebuah
milis beranggotakan anak muda yang gemar film, salah satu
miliser menyatakan, "Cocok
banget ditonton anak muda, supaya semangat Gie menular dan tidak hanya memikirkan gaya
gitu loh!"
Akankah Gie menjadi idola baru ?
sumber:
Koran Tempo dipublikasikan 15 Juli 2005