U
NYIL sudah lama tak terlihat dilayar televisi. Sudah pasti nama seperti Usro, Ucrit, Pak Raden, Pak Ogah, dan seterusnya tidak akrab dengan anak-anak sekarang. Mereka lebih akrab dengan Sinchan, Dora Emon, Mickey Mouse, Batman, Teletubbies, Dora, SpongeBob, dan lain-lain yang kini meghiasi layar kaca dan selalu dipelototi ribuan pasang mata anak-anak Indonesia.
Namun, nama Unyil tidak pernah pudar di hati pengelola Perum Produksi Film Negara (PPFN). Sebab, film boneka
Si Unyil adalah salah satu karya monumental lembaga yang dulu bernama Pusat Produksi Film Negara itu. Sejak 2003, PPFN sudah menghentikan produksi Unyil. Masalahnya, kalah bersaing dengan film anak-anak lainnya. Soal lain, perusahaan itu tak cukup modal untuk membeli jam tayang.
Perusahaan itu redup. "Ibarat-nya PPFN ini sudah tenggelam. Hidup segan mati tak mau," kata Eddy Noor, Direktur Utama PPFN. Ia mengakui, lembaga itu sedang terengah-engah mempertahankan operasionalnya memproduksi film negara. Tak ada dana masuk, karena memang tidak ada film yang dibikin dan dijual.
Mereka memang masih menerima kucuran dana dari negara tapi itu untuk gaji 173 pegawai dan biaya listrik. Tagihan listrik pun, kata Eddy, langsung disetor oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi ke PLN. Adapun biaya untuk memproduksi film, mereka tak punya. Bahasa Eddy begini, "Jangankan memproduksi film, untuk merawat ratusan peralatan saja tak ada biaya."
Padahal dalam gedung megah dengan halaman cukup luas [sekitar 2,3 hektare] ini terdapat dua studio
mixing, dua studio
dubbing, 13 studio
editing, proyektor 16 mm, proyektor 35 mm, seluloid BL 353, dan kamera digital D50 plus. "Ya, yang lama tak pernah dipakai tetapi harus tetap dirawat," ujarnya.
Dia mengatakan, PPFN tak pernah untung. Sejumlah masalah membelit lembaga ini. Selain kesulitan modal untuk biaya produksi, persaingan banjir film dari negara-negara asing, terutama untuk film kartun dari Jepang. Belum lagi masalah likuiditas keuangan dan tunggakan pajak ratusan juta rupiah. "Memang ada kaitannya dengan perubahan zaman dan komitmen pemerintah," tuturnya.
Di bawah kepemimpinan Eddy, perusahaan ini sempat mencoba bangkit. Mereka mencoba membikin kembali dan memasarkan film
Si Unyil, juga film anak
King King Sahabatku, ke beberapa televisi swasta pada 2003 dan 2003. Awalnya film ini, menurut Eddy, cukup laku, tapi kemudian mengendur. Masalahnya, mereka kalah modal untuk membeli jam tayang di televisi swasta.
Sejak 2004, mereka mencoba memproduksi
Unyil versi manusia. Alasannya masak Unyil kecil terus. "Masak Unyil dari dulu SD terus. Pakai kopiah. Sementara anak-anak sekarang tidak kenal kopiah dan sarung," kata Eddy. Tapi hingga kini belum jadi. Belum jelas kapan film itu akan selesai dan diputar di televisi.
Beberapa film dokumenter pesanan juga sempat mereka garap dengan nilai Rp. 50 juta dari beberapa instansi, seperti Depnakertrans, Jasa Tirta, dan departemen Pertanian. Mereka juga menggarap dokumenter untuk peristiwa pemilihan langsung legislatif dan presiden. Sayangnya, ini pun belum mendongkrak keberadaan mereka.
Di luar itu, tak ada produksi. Upaya lain untuk mengepulkan asap dapur perusahaan adalah dengan menyewakan fasilitas yang mereka miliki, seperti studio, bahkan menyewakan sebagian gedung untuk sebuah sekolah tinggi. Belakangan, sebagian awak perusahaan ini juga terlibat pembuatan film
company profile milik departemen atau BUMN.
Sebetulnya bukan tak ada upaya untuk tetap bertahan dan berproduksi. Sebut saja, mereka pernah mengajukan proposal pinjaman bank untuk modal kerja. Tapi proposal itu ditolak. Lengkap sudah kesuraman mereka.
Produksi
PPFN
Seluruh dokumentasi kegiatan kenegaraan antara lain:
__ Dokumentasi KAA tahun 1955
__ Dokumentasi G-30-S/PKI
__ Dokumentasi Pemilu 1971-2004
Film
__ Janur Kuning
__ Serangan Fajar
__ Pengkhianatan G-30-S/PKI
__ Si Unyil
__ King King Sahabatku
__ A.C.I (Aku Cinta Indonesia)
__ Si Huma (film kartun), dan lain-lain
sumber
Koran Tempo | 200705